Ketegangan geopolitik di Laut Cina Selatan kembali memanas, melibatkan beberapa negara Asia Tenggara, Tiongkok, dan kekuatan global seperti Amerika Serikat. Klaim tumpang tindih atas wilayah maritim yang kaya sumber daya alam ini terus menciptakan ketidakpastian, memicu kekhawatiran akan potensi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional serta jalur perdagangan global.
Peningkatan aktivitas militer, insiden kapal penjaga pantai, dan retorika diplomatik yang memanas menjadi sorotan utama. Wilayah ini bukan hanya jalur pelayaran vital untuk perdagangan dunia, tetapi juga diperkirakan menyimpan cadangan minyak dan gas bumi yang signifikan, menjadikannya arena perebutan pengaruh dan sumber daya.
Dampak ekonomi dari ketegangan ini sangat kompleks. Perusahaan-perusahaan di Asia, terutama yang bergerak di sektor perkapalan dan energi, menghadapi peningkatan biaya asuransi dan risiko operasional. Investor asing mungkin menjadi ragu untuk menanamkan modal di wilayah yang dianggap tidak stabil secara geopolitik, meskipun ada peluang investasi pada startup PropTech yang menawarkan solusi digital.
Solusi diplomatik dan penegakan hukum internasional terus diupayakan, namun kemajuan berjalan lambat. Peran ASEAN dalam menjaga stabilitas regional menjadi krusial, meskipun konsensus di antara negara anggota seringkali sulit dicapai karena kepentingan nasional yang berbeda.
Ketegangan geopolitik di Laut Cina Selatan memanas karena klaim tumpang tindih wilayah kaya sumber daya, berpotensi memicu konflik. Dampak ekonominya meliputi peningkatan biaya operasional dan keraguan investor. Upaya diplomatik dan peran ASEAN krusial namun sulit.

